1 Jemur beras di sinar matahari. Pinterest. Cara menghilangkan kutu dan semut di beras yang pertama adalah dengan memanfaatkan sinar matahari. Tips satu ini sangat cocok ketika semut dan kutu sudah masuk ke dalam tempat penyimpanan beras. Sedulur cukup membawa keluar beras ke tempat yang terkena sinar matahari langsung. KerajinanTikar Mendong. Memiliki beragam suku dan budaya membuat Nusantara memiliki beragam tradisi dan kerajinan yang ada. Salah satunya yang ada di pulau Jawa. Kerajinan mendong, menjadi ciri khas dari kelurahan Singkup, kecamatan Purbaratu, kota Tasikmalaya. Mendong adalah tumbuhan yang hidup dirawa, tanaman ini tumbuh di daerah berlumpur MenurutW.J.S Poerwadarmita (1982:155), pembuatan adalah cara yang dilakukan untuk mengadakan sesuatu benda. Dalam Kamus Bahasa Indonesia pengertian pembuatan adalah cara yang dilakukan untuk mengadakan sesuatu benda. Jadi dapat dikatakan pembuatan adalah kegiatan yang menghasilkan suatu benda atau barang. 3. Proses Pembuatan Salahsatunya adalah tanaman mendong. Cara membuat tikar dari bahan ini memiliki tahapan yang panjang. Singkatnya, kamu perlu menjemur serta memisahkan tanaman mendong berdasarkan panjang batangnya. Setelah sudah siap, tanaman mendong tadi diberi warna dengan dicelup. Selanjutnya, masuk ke tahap penenunan. mendongadalah sejenis rumput ilalang yg tekstur nya lebih besar dan rimbun.Biasanya hidup di sawah.Sekarang petani mendong sedikit menanam mendong, dikaren Selamaini masyarakat telah banyak mengantungkan hidupnya pada bidang usaha kerajinan mendong dari proses awal sampai menjadi sebuah produk kerajinan, berikut sekilas proses kegiatan para pengrajin, 1. Penanaman atau pembudidayaan tumbuhan mendong. 2. Pengolahan mendong menjadi bahan baku. 3. Proses penganyaman mendong. Setelahsekitar 3-5 bulan, mendong sudah bisa dipanen. Setelah dipanen, mendong dijemur sampai kering dengan terik matahari langsung. Inilah mengapa biasanya panen mendong dilakukan saat cuaca sedang cerah dan panas. Tikar mendong di desa Wajak pernah mencapai kejayaannya sekitar tahun 1990 an. Meski sekarang sudah tidak banyak lagi pengusaha Setelahkering, daun mendong akan disortir lagi dan diikat berdasarkan ukurannya. Ikatan-ikatan mendong lalu dirapikan ujung-ujungnya. Jika sudah rapi, mendong akan dijemur lagi kira-kira dua sampai tiga jam. Terakhir, ikatan-ikatan mendong disimpan di rumah selama satu hari agar tidak gampang rapuh. 2. Proses Pewarnaan. Tidak hanya sampai DariMendong ke Kerajinan Tangan Eksotis. Kamis, 19 Apr 2018 08:02. Hasil Kerajinan Mendong (bisnisukm.com) Mendong biasanya dikenal sebagai bahan baku pembuat tikar. Tapi di Temanggung, mendong juga bisa diubah menjadi kerajinan tangan bernilai jual tinggi, lo. Millens tahu tanaman mendong? AnyamanMendong Selain bambu, anyaman boleh dicipta melalui memakai bahan mendong. Mendong berasal dari tanaman mendong, sejenis alang-alang dimana tumbuh dalam rawa-rawa / kantor tergenang. Sebelum digunakan, mendong hendak dicuci duluan, dijemur sampai kering, diberi warna kalau mesti, daran diberi pengawet agar agar tahan suram. ItlD. Laporan Wartawan Tribun Pontianak Mg1, David Andy Alvaret PONTIANAK - Kreativitas mahasiswa rantau asal Kabupaten Bengkayang, kali ini ditunjukan dalam Pameran Ekraf 2017. Para mahasiswa asal Bengkayang membagikan ilmu tentang tata cara membuat tikar bidai asal Bengkayang. Antusias pengunjung untuk ikut belajar langsung dengan para pembuat tikar bidai di tunjukan dengan antusias yang tinggi walaupun dengan cuaca yang cukup panas. Baca Ternyata Pernah Terjadi Keributan Fatal di Pengadilan Negeri Putussibau, Ini Penjelasan Ketua PN Cara membuat kerajinan tikar bidai ini melalui 6 proses yaitu1. Pembelaham Rotan2. Penjemuran Rotan3. Perautan Rotan4. Pengayaman Rotan5. Penjagatan/pengikatan ujung rotan6. Menjemur Bidai yang telah jadi Baca Suasana Ruang Tunggu Bandara Supadio Pontianak Hari Ini Beda, CS Kenakan Pakaian Adat Kerajinan bidai ini, tentu memiliki kelebihan dan juga kekurangan. Kelebihan dari bidai ini adalah sangat kuat atau tidak mudah rusak. Sedangkan kekurangannya adalah bahan yang sulit didapat serta pembuatan yang masih secara manual dan harus memiliki keahlian dalam membuatnya. SECARA administratif, Desa Sendang Sari terletak di Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman. Namun, secara geografis desa ini lebih dekat dengan Kabupaten Kulon Progo. Sendang Sari dan Kab. Kulon Progo memang hanya dibatasi oleh Sungai Progo, atau yang biasa disebut orang asli Jogja sebagai Kali Progo. Karenanya, Suroso–teman kos yang asli Sendang Sari, sering bercanda kalau ia bisa bolak-balik Sleman-Kulon Progo dalam waktu kurang dari 5 menit. Ya, cukup seberangi saja Sungai Progo, maka sampailah kita di wilayah Kulon Progo. Sendang Sari merupakan desa penghasil mendong, tanaman yang biasa dijadikan sebagai bahan pembuat tikar selain pandan. Secara sekilas tanaman ini seperti padi, namun jika diperhatikan sangat berbeda sekali. Masyarakat Sendang Sari menjadikan mendong sebagai tanaman andalan setelah padi. Masa tanam mendong pun biasanya setelah masa panen padi. Satu hal yang membuat mendong menjadi favorit petani Sendang Sari, tanaman ini cukup ditanam sekali saja. Setelah dipanen, biasanya panen pertama sekitar 1-2 bulan, akar-akar yang masih tersisa akan menumbuhkan mendong-mendong baru yang bisa dipanen terus-menerus. Panen tanpa henti ini hanya bisa distop jika petani memberangus habis akar mendong agar dapat tanah ditanami tumbuhan lain. Mengurus mendong juga tidak sulit. Paling tidak, tanaman ini tidak serewel padi meskipun sama-sama ditanam di sawah. Hanya saja, tentu bakal ada perbedaan antara mendong yang diurus baik-baik dipupuk, pengairan cukup, gulma dibersihkan dengan mendong yang diurus ala kadarnya saja. Dan, untuk masing-masing kualitas ada perbedaan harga yang cukup mencolok. Sayangnya, saya lupa berapa kisaran harga yang dulu pernah diceritakan seorang petani ketika saya berwisata ke Sendang Sari. Sebagaimana umumnya sentra penghasil sesuatu hasil bumi, di Sendang Sari mendong bertebaran. Kita bisa melihat di depan tiap-tiap rumah penduduk ada tumpukan mendong kering yang diikat dalam gulungan besar-besar. Mendong-mendong tersebut sudah siap jual. Yang jadi persoalan, petani Sendang Sari menggantungkan sepenuhnya penjualan mendong hasil panen mereka ke pengepul yang biasa berkeliling kampung-kampung mencari mendong berkualitas. Kalau tak ada pengepul yang datang, alamat mendong bakal terus tertumpuk sampai dimakan rayap atau lapuk ditempa panas dan hujan. Mendong setelah dipanen jadi semakin dramatis karena mendong Sendang Sari dipasarkan untuk pengrajin di daerah Jawa Barat. Pengepul yang biasa keluar-masuk kampung adalah kepanjangan tangan dari pengrajin luar daerah tersebut. Karena hanya bergantung pada satu daerah dan satu sistem penjualan, petani-petani mendong Sendang Sari terpaksa terus menumpuk hasil panen mereka jika tak ada pembeli yang datang. Padahal, kalaupun terjual petani masih harus mengelus dada karena harganya anjlok drastis. Sangat disayangkan Sendang Sari sebagai sebuah sentra penghasil mendong tidak mempunyai pengrajin yang dapat mengolah sendiri hasil panen tersebut sebagai barang yang siap jual. Kalau saja ada pengrajin lokal yang siap menampung hasil panen petani Sendang Sari, masalah menumpuknya hasil panen dapat teratasi. Masalah lain memang bisa saja muncul, yakni persoalan distribusi hasil kerajinan. Namun ini dapat diatasi secara kreatif dengan melakukan penjualan melalui internet, dititip-jualkan ke swalayan/supermarket, atau sekalian menggandeng pemerintah daerah. Toh, sekarang Pemda sangat peduli dengan aktivitas kreatif seperti ini. Itulah sebabnya ketika Suroso, teman saya yang asli Sendang Sari tersebut, bingung merancang-rancang apa yang akan ia lakukan setelah lulus dari Universitas Ahmad Dahlan UAD, saya nyeletuk agar ia pulang saja ke Sendang Sari. Ada banyak hal yang bisa ia lakukan di tempat asalnya terbut. Repotnya, teman saya ini bercita-cita menjadi guru dan telah merintis karir sebagai guru privat serta guru pengganti di sebuah SMA di Jogja. Harus diakui, prospek guru–terutama guru privat–jauh lebih cerah di Jogja. Kalau akhirnya teman ini memilih menekuni karir di Jogja, entah sampai berapa lama petani mendong di Sendang Sari harus menunggu kehadiran generasi muda desanya yang peduli pada mereka. Foto-foto Koleksi pribadi. Pasca Panen Mendong untuk Pembuatan Lampit Penyiapan bulan-bulanan Penjemuran purun Perebusan mensiang buat pewarnaan Bagian pohon mensiang nan digunakan sebagai bahan baku kerajinan adalah bangkai mensiang. Mayat mendong yang sudah dapat dipanen puas umur 3 hingga 4 rembulan, tingginya telah hingga ke 100 setakat 120 cm, dan mendong tersebut bercat hijau sehat. Batang mendong nan terlalu bertongkat sendok dan berwarna kuning atau coklat enggak dapat digunakan, karena saat dianyam mudah kutung. Gelagah yang mutakadim dipanen kemudian dijemur dan ditaburi abu agar serat purun lebih lentur dan lebih halus. Mendong tersebut dijemur dibawah terik rawi supaya mendong cepat kering. Mendong yang sudah lalu dijemur, saat kersang akan mengalami perlintasan warna nan awalnya berwarna mentah segar akan berubah menjadi warna coklat. Mendong yang mutakadim putih boleh dijemur di keramik terbuka yaitu di pelataran rumah, bisa juga dengan cara digantung pada jemuran yang terbuat berpunca awi yang dibentangkan. Lama penjemuran mendong tergantung pada seri dan musim. Apabila tahun kemarau dan cuacanya baik, mendong dijemur pada panas musykil matahari sepanjang satu musim boleh gersang. Namun apabila masa hujan angin, mendong yang dijemur akan kering dalam hari tiga sampai empat hari. Perebusan merupakan cara nan digunakan bagi mengecat serat mendong dengan objek imitasi basis. Untuk melakukan penggodokan pupuk mendong, bahkan adv amat mempersiapkan tungku dan kuali, kemudian kuali tersebut diisi dengan air dan direbus hingga mendidih. Setelah air mendidih, zat warna dimasukkan lega air rebusan tersebut. Sebelum serat mensiang direbus, serat mensiang terlebih dahulu diikat dengan cara dilipat kiranya mendong dapat mudah dimasukkan pada kuali. Kemudian mensiang yang sudah dilipat tersebut dimasukkan ke dalam kuali yang sudah diberi zat warna. Momen melakukan pengolahan, gelagah yang direbus berbarengan 5 dibolak-balik sebatas rona tersebut mengangop pada mendong hingga warnanya merata. Pengolahan serabut mensiang dapat dilakukan selama 15 menit. 1 Proses pencelupan Pencelupan dilakukan dengan menerobos beberapa tahap. Tahap purwa, adalah mempersiapkan alat serta bahan. Setelah semuanya sudah tersedia, kemudian melakukan pengolahan air yang sreg nantinya akan digunakan buat mencelup jamur. Tahap kedua, setelah air mendidih kemudian memasukkan zat cat ke dalam air tersebut dan direbus sampai zat warna yang digunakan serius meresap puas serabut. Tahap ketiga, melakukan pengadukan serat secara berulang-ulang kiranya menghasilkan warna nan baik. 2 Proses fiksasi Proses fiksasi maupun sering disebut intiha warna, merupakan proses penstabilan warna meski hasil pemotifan lain pudar lagi. Selain itu, proses ini juga merupakan proses buat menentukan arah dandan. Sasaran yang digunakan puas proses fiksasi cak semau tiga varietas, yaitu tawas nan menghasilkan dandan muda sesuai corak aslinya, kapur yaitu untuk membuat dandan menjadi kecoklatan, dan tunjung bikin takhlik warna agar lebih renta atau lebih hitam. Kaidah fiksasi adalah menyediakan bahan tawas sebanyak 50 gram cak bagi dilarutkan ke n domestik 1 liter air, kemudian mengegolkan cairan tawas tersebut ke dalam ember. Dengan cara nan sama, kapur dan tunjung dilarutkan pada baldi lain. Setelah semua bahan fiksasi siap, baja yang sudah diwarna dan serat sudah kering, dimasukkan ke n domestik cair tawas atau kapur tunjung abnormal makin sepanjang 7,5 menit, sedangkan kerjakan tunjung sepanjang 3 menit agar proses fiksasi berbuntut dengan baik. Purun yang telah direbus pada zat dandan, kemudian dicuci dengan air bersih yang sebelumnya sudah disediakan sreg ember. Keefektifan semenjak pencucian ini ialah lakukan mengurangi resiko lunturnya dandan saat dikeringkan. Proses pewarnaan tekstil terserah beberapa tahap, antara tidak Pembilasan mendong 6 Penjemuran gelagah Seperti halnya pada proses pengecatan mendong dengan cat sasaran alami, pengeringan purun dengan bahan sintetis juga sama ialah mendong yang sudah lalu tahir bisa dijemur di lantai terbuka dapat juga dengan cara digantung plong jemuran yang mutakadim ada. Saat panas terik, penjemuran gelagah dapat dilakukan dalam waktu suatu hari dan mendong sudah cengkar. Bangkai purun cengkar bisa dianyam sambil atau dipres terlebih dahulu kiranya batang mendong lebih padat dan terpesuk. Pendirian mengepres mendong secara manual yaitu dengan cara digemblong. Digemblong merupakan memipihkan mendong dengan cara dipukul-pukul seperti orang sedang mengantuk padi, dengan menggunakan kayu yang sudah dibentuk sedemikian rupa, ki alat yang digunakan ialah alas kayu nan membosankan. Purun nan akan digemblong diikat dan dipukul kontan di bolak-balik semoga mendong gentat dengan merata. Fungsi dari digemblong merupakan sepatutnya mendong gepeng dan halus, sehingga akan lebih mudah saat dianyam dan tangan lain akan mudah sakit. Pada dasarnya, menganyam atau menciptakan menjadikan anyaman ialah menyusun lungsi dan pakan. Lungsi adalah jajaran benang, lawai, iratan atau pita bahan anyaman yang diletakkan bernasib baik. Sedangkan pakan adalah jajaran benang atau utas yang ubah berjalin dengan lungsi nan melintang tegak verbatim. Bagi takhlik anyaman permulaan yang dilakukan adalah membentuk klinthing yaitu lungsin rafia yang dibentangkan fungsinya untuk membatasi anyaman. Pendirian merajut dilakukan secara menyilang, ada tiga bagian pada anyaman adalah perbatasan, tengahan dan kuncian. Selain itu, pembuatannya bisa dilakukan dengan cara ditenun. Perkakas yang dipakai dalam proses produksi kasah mendong memperalat radas tenun ATBM alat tenun bukan mesin injak ataupun tenun mesin. Anyaman/Tenun mensiang 7 More stories from this publisher Source